Postingan

Review: Sal Priadi - MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS

Gambar
Metamorfosis Sal Priadi pada album ini mengingatkan gua dengan perkataannya di konten YouTube #NGOBAM bersama Gofar Hilman 4 tahun lalu. Ya, sebelum gua unsubscribe dan unfollow si terduga pelaku pelecehan seksual yang tak terbukti itu. Sal mengatakan, "Gua saat ini sedang berusaha membuat lirik dengan kata-kata yang bisa berdiri di antara puitis, sekaligus keseharian. Gua sangat tertarik dengan kata-kata sehari-hari atau bahkan terdengar cringe ketika dibaca. Tapi ketika jadi sebuah lagu, justru kata-kata itu malah jadi terdengar indah." Makanya dengan kehadiran lagu seperti "Mesra mesraannya kecil-kecilan dulu", "Kita usahakan rumah itu", bahkan hingga "Dari planet lain" yang menjadi karya paling viralnya belakangan ini, gua sama sekali tidak kaget dengan penulisan liriknya. Omongan ini juga sempat gua sampaikan kepada seorang kawan yang merasa bahwa dengan lirik dan musik saat ini, Sal Priadi mengalami 'penurunan'. Ya bisa dimaklumi...

Halo.

Gambar
Selama kurun waktu 6 bulan sejak Januari hingga Juni ini, bisa dibilang hasrat "menulis" jadi molor. Ya, molor menulis untuk tujuan masturbasi maksudnya. Karena belakangan malah rajin menulis hook , script , hingga caption media sosial untuk nyebokin kemauan-kemauan orang lain saja.  Apalah itu sampah trendi yang memaksa gua untuk mengais, hingga mengoyaknya satu per satu demi membunuh tetek bengek hutang piutang ini. "Mampus kau dikoyak-koyak trendi," saut WS Rendra dari atas singgasana sana kepada gua. Alasan hasrat ini selalu molor, hanya lantaran perkara diberi kabar nggak pasti sejak beberapa bulan lalu. Alhasil hasratnya kian memudar, menghitam, bernanah, bahkan membusuk sampai-sampai benci untuk menghirup aromanya lagi. Awalnya gua kira hasrat ini bakal gua kubur seterusnya hingga menyisakan tulang belulang. Tapi ternyata, setelah lama tak menggelutinya akhirnya gua memutuskan untuk membongkarnya kembali dari liang lahat. Itu semua berdasarkan cuma karena r...

APA ISTIMEWA NYA ALBUM MEMORANDUM DARI PERUNGGU?

Gambar
Sudah lama sekali blog ini terkubur dalam-dalam. Tentunya karena gairah sang penulis yang tak stabil untuk melukis pada kolom ini. Alangkah baiknya semua hasrat itu gua gali kembali dalam-dalam agar lebih waras lagi. Yang tentunya semua gairah itu bangkit kembali akibat pembahasan topik ini yang sangat ingin gua bahas. Belakangan, gua banyak sekali mendengar, merasakan, album-album musik yang hadir di Indonesia. Tapi entah kenapa gua baru kembali lagi benar-benar merasakan sesuatu tanpa tendensi ingin menjadi yang terbaik, sederhana dari segi musik dan lirik, hanya didasari oleh kesenangan bermusik yang hakiki, sehingga nyawa seluruh lagu pada album ini sangat tersampaikan. Ya, memang seni yang baik menurut gua adalah seni yang berhasil menyampaikan seluruh rasa dan pesan kepada penikmatnya, seperti Album "Memorandum" dari Perunggu yang daritadi gua bicarakan.  Memang banyak juga musisi atau band yang gua dengarkan belakangan ini terasa bersenang-senang pada musik yang mereka...

ULASAN BUKAN PATOKAN!!

Gambar
Gua udah beberapa kali bikin review soal album musik dan film yang gua share disini dan youtube gua. Niatnya cuma pengen ngebacot doang. Atau lebih tepatnya "Mengeluarkan Perasaan" ketika abis nikmatin suatu karya. Maupun ada yang berisi kritikan atau pujian.  Tapi ironisnya, beberapa temen suka nanya pendapat ke gua untuk dijadikan tolak ukur mereka. Kaya misal, "Menurut lu ini bagus ga?"  Dalem hati, "Waduh, kenapa nanya ke gua sih, kredibilitas aje gaada wkwkw kenapa ga nikmatin sendiri aja sih.."  Dan emang masih banyak orang - orang yang menjadikan review dari author tertentu sebagai acuan untuk memutuskan menikmati karya tersebut atau engga.   Tapi jujur, hal yang paling gua paling kesel adalah tipe manusia yang suka ngomong ke gua, "Kenapa pada bilang ini bagus ya?"  "Ya kemaren gua nonton sih menurut gua sih…………….."  "Kalo menurut gua yang gua liat dari situs ini sih…………….."  Halahh, mati aja so...

Suar dari Hit & Run, Bikin Percaya lagi sama Film Action Comedy Indonesia

Gua tertarik nonton film ini karna gua ngeliat pertama kali poster nya di sosmed, udah gitu jajaran nama nya cukup meyakinkan gua. Sebagai Director disini ada Ody C Harahap, dengan "Orang kaya baru" dan "Sweet 20" nya yang menghibur dan sukses. Bisa gua bilang salah satu director film komedi yang bagus lah di Indonesia. Lalu ada Upi sebagai Scriptwriter, dengan film komedi nya "My stupid boss" dan film - film lainnya seperti "Belenggu", "Realita cinta Rock n Roll" juga turut membuat gua penasaran. Dua nama yang gua sebut diatas udah gausah diraguin lagi lah kalo masalah film komedi, udah terbukti. Setelah ngeliat dua nama tadi, gua awalnya berfikir "ohhh Action nya standar sih kayanya". Karna emang mereka spesialisnya di Komedi. Tapi setelah ngeliat jajaran Cast nya dari Joe Taslim, Chandra Liow, Jefri Nichol, Tatjana Saphira, dan Yayan Ruhian. Gua langsung mikir "wahhh, ini sih kayanya action nya ga maen - maen nih, ga c...

EP The Three Magical Penguins dari Zeke and The Popo, band yang seenaknya mindah - mindahin suasana lagu

Gambar
Tumben - tumbenan gua berani ngereview musik di blog ini. Gatau kenapa di kepala gua akhir - akhir ini terlalu banyak suara “ayo review musik apalagi, review musik apalagi” dan hati yang susah ditenangkan. Sementara kalo review musik di youtube butuh proses diskusi dan editing. Jadi, yaa gua liampiasin disini aja kali yee. Sebenernya bukan ide yang bagus yah, review musik pertama kali di blog ini terus ngereview nya EP dari Zeke and The Popo - The Three Magical Penguins. Karena yang gua dengerin secara musik nya kompleks banget. Sementara gua ga ngerti apa - apa soal musik. Yaaa apa daya aku hanya manusia biasa yang mencintai musik untuk memanjakan telinga yang tidak terlalu bagus ini wkwk. Tapi selain gua berani, alasan gua sampe mau - mau nya review EP yang susah direview buat orang awam kaya gua ini adalah karena gua suka banget sama EP ini. Apalagi karena band ini udah lama vakum, terakhir ngeluarin album yang bertajuk Space In The Headlines itu di tahun 2007. Jadi EP in...

Review : 27 Steps of May

Gambar
27 Steps of May garapan Ravi Bharwani bercerita tentang May ( Raihaanun ) yang diperkosa oleh sekelompok orang. Ayah May ( Lukman Sardi ) sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat melindungi anaknya. Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. Ia menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, atau kata-kata, sementara Ayahnya terjebak oleh perasaan bersalah. Lalu melampiaskan semua amarahnya di ring tinju. Lalu semua nya berubah, ketika May bertemu seorang pria Pesulap ( Ario Bayu ) dengan menunjukkan aksi - aksi nya yang mendetail dari hari - ke hari lewat lubang di tembok kamar nya akibat sebagian rumahnya kebakaran. Perlahan - lahan keadaan May semakin membaik. Alurnya disini menurut gua bertempo lambat. Tapi dengan begitu, kita sebagai penonton menjadi lebih merasakan dan merasuk dengan rutinitas May sebagai Tikus di dalam toples, dengan membuat boneka wanita dan dikasih ke pada ayahnya untuk diberikan lagi ke temannya s...