Review: Sal Priadi - MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS

Metamorfosis Sal Priadi pada album ini mengingatkan gua dengan perkataannya di konten YouTube #NGOBAM bersama Gofar Hilman 4 tahun lalu. Ya, sebelum gua unsubscribe dan unfollow si terduga pelaku pelecehan seksual yang tak terbukti itu.

Sal mengatakan, "Gua saat ini sedang berusaha membuat lirik dengan kata-kata yang bisa berdiri di antara puitis, sekaligus keseharian. Gua sangat tertarik dengan kata-kata sehari-hari atau bahkan terdengar cringe ketika dibaca. Tapi ketika jadi sebuah lagu, justru kata-kata itu malah jadi terdengar indah."

Makanya dengan kehadiran lagu seperti "Mesra mesraannya kecil-kecilan dulu", "Kita usahakan rumah itu", bahkan hingga "Dari planet lain" yang menjadi karya paling viralnya belakangan ini, gua sama sekali tidak kaget dengan penulisan liriknya. Omongan ini juga sempat gua sampaikan kepada seorang kawan yang merasa bahwa dengan lirik dan musik saat ini, Sal Priadi mengalami 'penurunan'. Ya bisa dimaklumi, lantaran sebelumnya di album "Berhati" (2020) Sal seperti orang yang berbeda dengan lirik yang puitis, gelap, dan musiknya terasa lebih megah.

Muara kemunculan rasa album ini pun akhirnya terendus melalui wawancaranya di media Whiteboard Journal beberapa waktu lalu. Sal memaparkan, kelahiran karakter albumnya yang kontras ini berasal dari obrolan sehari-hari kerabatnya di Jakarta yang menurutnya puitis. Daripada perubahan liriknya dari album satu ke dua, justru gua lebih kaget mendengar jawaban tersebut. Bagaimana bisa Sal menangkap sisi puitis warga Jakarta ketika kita semua tahu seberapa chaotic keadaan lalu lintas dan lontaran di sekelilingnya yang kerasukan Inggris dan umpatan-umpatan seperti 'Ngentot' hingga 'Kontol' pada kesehariannya? Benar-benar mengejutkan.

Tapi apapun itu, bicara album, gua justru lebih suka dengan karakter Sal Priadi yang hinggap di "MARKERS SUCH AND PENS FLASHDISKS". Sal terdengar berani bermain di area diksi dan frasa sederhana, bahkan sesederhana diksi-diksi seperti 'di umurku yang segini' di lagu "Episode", sampai 'emang ada persewaannya' di lagu "Yasudah", di kala para musisi lain menghindarinya. Bayangkan, diksi-diksi tersebut jika tidak dikemas dengan gubahan musik yang baik, akan betapa cringe terdengar pastinya. Untungnya sal mahir mengolah bunyi-bunyian tersebut. Sal menolak untuk monoton dan lembek. Ia memilih liar dan menyenangkan. Dari soul jadul di lagu "Foto kita blur", "Di mana alamatmu sekarang", gospel di lagu "Ada titik-titik di ujung doa", hingga folk ciamik ala latin di lagu "Zuzuzaza". Kemasan musik inilah yang membuat lirik Sal yang dibaca cringe disulap menjadi batas normal. Bahkan menjadi estetika tersendiri dibandingkan para musisi hari ini.

Temanya lebih variatif. Ada percintaan hingga reflektif kehidupannya saat ini. Khususnya di lagu "Episode" yang menunjukkan 'episode' dirinya saat ini kala sudah tumbuh lebih dewasa.

Di umurku yang segini

Teman dekat makin sedikit

Ada untuk tempat cerita

Juga jadi teman pesta

Kalau dulu, lain cerita

Sehari bisa tiga

Sampai lima tempat berbeda

Di sana aktif semua

Sekarang tubuhku sering minta waktu

Untuk sendirian

Kemasannya remeh nan ringan. Padahal jika ditelusuri lebih dalam hampir semua yang dibicarakan di album ini sangatlah deep. Salah satunya di lagu "Gala Bunga Matahari" yang berisi banyak pertanyaan tentang rasa penasaran Sal akan surga kepada orang yang telah tiada.

Ceritakan padaku

Bagaimana tempat tinggalmu yang baru

Adakah sungai-sungai itu benar-benar

Dilintasi dengan air susu?

Namun yang membuat sayup-sayup tawa merekah di album ini adalah Sal kembali berhasil memamerkan berbagai perspektif jailnya. Contoh di lagu "Semua lagu cinta", yang menunjukkan alasan mengapa lagu-lagu Sal dari dulu hingga kini terasa begitu filmis.

Di manapun lagu cinta ini terputar

Ada film di kepalaku yang terputar

Adegan romantis pemerannya kamu

Berdiri mengantar pulang matahari

Siluet tubuhmu diterpa ombak biru

Kemudian, di lagu "I'd like watching you sleeping" yang mengingatkan gua dengan kenakalan angle-nya seperti di lagu terdahulu, "Ikat Aku Di Tulang Belikatmu".

I’d like to watch you sleeping 

Lebih sering menganga 

Aku lihat ada tempat longgar di sana 

Aku ingin tinggal di belakang gigimu

Ya itulah 8 dari lagu yang gua mention album ini. Sisanya, biarkan kalian bertualang sendiri dengan 7 lagu lainnya. Termasuk 3 trek awal "Kita Usahakan Rumah Itu", "Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu", dan "Lewat pukul dua, makin banyak bicara kita" yang membuat Sal membuka album ini bertele-tele karena sudah kelewat basi. Bahkan gua cukup malas untuk menghangatkannya kembali agar setidaknya bisa disantap walaupun rasanya akan biasa-biasa saja.

Gua adalah orang yang tidak terlalu suka dengan cara menjajakan musik hari ini yang gemar membangun euforia pendengar akan album terbaru dari seniman dengan memecah satu hingga beberapa single terlebih dahulu. Cara seperti ini membuat single-single tersebut jadi tidak memiliki efek setrum kembali kala didengar dalam kesatuan album. Namun gua juga tidak mau kolot. Gua akan berusaha memaklumi jika jarak waktu antara perilisan single dan album tidak terlalu jauh. Namun "Kita Usahakan Rumah Itu", "Mesra-mesraannya kecil-kecilan dulu", dan "Lewat pukul dua, makin banyak bicara kita" telah rilis 2 tahun lalu. Walaupun nyambung dengan tema-tema lainnya di album ini, tetapi gua tidak perlu tahu lagi bahwa Sal pernah merilis tiga lagu bagus yang sudah usang. Jadi sebaiknya tiga lagu tersebut dibuang dari album, biar menjadi dimensi sendiri dalam EP MARKERS AND SUCH (2022). Meski gua ragu saran ini akan didengarkan. Karena ya, siapalah gua.

Selain itu, toh kritikan tersebut juga belum mampu meruntuhkan kegagahan album ini. Alasan utamanya adalah karena Sal terasa begitu tulus dan tak tertebak sehingga membuat gua berpikir, "apakah ini diri Sal yang sebenarnya?." Tak tahu, gua belum mengenalnya. Namun kalau pun itu benar, gua turut mengucapkan selamat bagi siapapun seniman yang berhasil menemukan dirinya seiring berjalannya waktu berkarya. Tidak semua seniman bisa atau berani melakukannya. Karena sebaik-baiknya karya dari seniman adalah karya yang berisi sebenar-benar dirinya. Terlepas karya itu terkesan jelek direspons oleh pendengar. 

Dengan MARKERS SUCH AND PENS FLASHDISKS, Sal juga berani mengusir fansnya yang masih mengagung-agungkan album "Berhati" yang elegan dan berwibawa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA ISTIMEWA NYA ALBUM MEMORANDUM DARI PERUNGGU?

"Bales Pake Karya"