Review : 27 Steps of May


27 Steps of May garapan Ravi Bharwani bercerita tentang May ( Raihaanun ) yang diperkosa oleh sekelompok orang. Ayah May ( Lukman Sardi ) sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat melindungi anaknya. Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. Ia menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, atau kata-kata, sementara Ayahnya terjebak oleh perasaan bersalah. Lalu melampiaskan semua amarahnya di ring tinju.

Lalu semua nya berubah, ketika May bertemu seorang pria Pesulap ( Ario Bayu ) dengan menunjukkan aksi - aksi nya yang mendetail dari hari - ke hari lewat lubang di tembok kamar nya akibat sebagian rumahnya kebakaran. Perlahan - lahan keadaan May semakin membaik.

Alurnya disini menurut gua bertempo lambat. Tapi dengan begitu, kita sebagai penonton menjadi lebih merasakan dan merasuk dengan rutinitas May sebagai Tikus di dalam toples, dengan membuat boneka wanita dan dikasih ke pada ayahnya untuk diberikan lagi ke temannya sebagai kurir ( Verdy Soelaiman ), menyetrika bajunya dengan perlahan, lompat tali, dan memakan makanan yang tawar berwarna putih.

Rutinitas May ternyata bukan cuma tempelan saja. Tapi rutinitasnya ternyata menunjukkan proses bagaimana May semakin lama keadaannya semakin membaik setelah bertemu pria pesulap itu. Dengan yang tadinya membuat boneka wanita yang biasa, May jadi membuat boneka pesulap wanita. Lalu ia jadi males nyetrika dan lompat tali. Dan yang paling menonjol adalah May jadi ingin lagi memakan makanan yang berbumbu/berwarna.

Sinematografi ( Ipung Rahmat Syaiful )  juga bagus banget, pencahayaan lampu di kamar May yang gua suka. Sendu terkesan gelap, melambangkan hati dari May. Juga set nya yang menurut gua sederhana tapi ditata dengan rapih ( Vida Sylvia ).

Menurut gua film ini juga sedikit menyentil tentang kepercayaan orang - orang dengan sesuatu yang diluar nalar. Contohnya saat Lukman Sardi sedang tidak mood karna masih merasa bersalah. Verdy soelaiman sebagai sahabatnya turut membantu dengan membawa orang - orang “pintar” untuk membuat suasana rumah membaik dengan berbagai cara. Dengan orang betawi yang menyebar kembang ke teras rumahnya, dan ahli feng-shui yang menaruh sesuatu di pohonnya yang katanya bisa membawa hoki. Namun semua itu, respon Lukman Sardi selalu sama, ia terus - menerus bilang “ga ngaruh”. Sepertinya sang penulis naskah ( Rayya Makarim ) ingin menyampaikan pesan bahwa untuk apa orang - orang percaya dengan hal - hal itu.

Akting dari Raihaanun dan Lukman Sardi disini ga perlu diragukan lagi. Membuat beat film ini semakin terasa. Apalagi saat scene dimana Lukman Sardi memaksa May untuk keluar dari kamarnya karena ada kebakaran yang sangat dekat dengan rumahnya. Sementara May dengan keras kepala nya tidak mau keluar dari kamar karena paksaan yang dilakukan oleh Lukman Sardi, membuat May teringat sedikit demi sedikit dengan pemerkosaannya yang lalu. Akhirnya mereka berdua disitu saling tarik menarik dengan emosi yang berapi - api dan berjatuh - jatuhan. Seketika membuat orang berdua di samping gua berhenti ngobrol. Lalu lanjut lagi abis scene itu.

Di ending, May sudah sembuh dari depresi nya. Keluar rumah berjalan di area gang dengan senangnya setelah sekian lama mengurung diri di kamar. Gua pun juga turut merasakan apa yang di rasakan May, “wihhh indah yaa…”  lalu seketika gua sadar “Anjinggg ini kan cuma gang rumah, tapi kok indah banget ya jadinya?”.

Setelah film berlangsung lama, gua baru menyadari betapa brilian nya film ini. Ternyata kita sebagai penonton daritadi selama film berlangsung, sengaja disuguhkan dengan adegan - adegan yang minim pencahayaan dan tidak pernah diperlihatkan area luar rumah. Sehingga, kita menjadi terbiasa dengan semua itu dan juga turut merasakan apa yang dirasakan oleh May yang terisolasi dengan dunia luar. Alhasil, ending May yang keluar dari rumahnya dan berjalan di area gang nya menjadi terasa indah karena kita juga turut merasakan apa yang May rasakan. Yaitu melihat indahnya dunia luar setelah sekian lama terbiasa oleh sendu nya cahaya lampu kamar.

Film yang indah, emosi dari para cast yang bikin terpukau, dan juga cerita yang memberi pesan kepada kita bahwa ternyata kejahatan bukan hanya menyakiti target sasarannya ( May ), tapi sebagaimana disini. Kejahatan juga bisa menyakiti dari sisi yang ga terduga ( Ayahnya May ).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA ISTIMEWA NYA ALBUM MEMORANDUM DARI PERUNGGU?

Review: Sal Priadi - MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS

"Bales Pake Karya"