Review : Ave Maryam


Di Semarang, Film dari Ertanto Robby Soediskam sutradara selaku penulis di sini. Berkisah tentang suster yang bernama Maryam ( Maudy Koesnaedi ) seorang biarawati yang bertugas mengurusi para suster-suster tua. Lalu Maryam jatuh pada Pastor baru, Yosef ( Chicco Jerikho ) akan kepiawannya bermain musik. Dari situ lah semua cerita yang menarik dimulai.

Walaupun Maryam seorang biarawati yang mulia mengurus hidup para suster - suster tua disitu, dan Yosef seorang Pastor. Namun siapa sangka percintaan kedua nya telah menerobos dan menyimpang dari ajaran agama. Tidak sesuci kelihatannya.

Adegan demi adegan memperlihatkan bagaimana kencan mereka berdua yang tak kalah menarik hampir di tiap malam. Karena Maryam yang dibebani dengan urusan obat yang harus diberikan ke suster Monic ( Tutie Kirana ) di tiap malam, dan harus pergi secara diam - diam. Surat menyurat juga turut menyertai bagaimana proses dari Yosef ke Maryam untuk pergi berkencan layak disimak.

Musik - musik yang diolah oleh The Spouse dan yang hampir kita dengarkan di sepanjang film membuat suasana film ini menjadi lebih indah. Ga sekedar tempelan.

Cinematografi yang diolah oleh sang D.O.P ( Ical Tanjung ) apalagi, huhhhh. Sudah tidak diragukan lagi yah. Cara dia memainkan lighting, angle, lalu dipadu dengan set yang terasa natural dan artistik yang diolah oleh sang Art Director ( Allan Sebastian ). Grading yang dominan gelap juga turut mendukung suasana film ini menjadi lebih sendu.

Dialog nya disini juga puitis, tapi bukan sekedar gaya - gayaan. Makna yang disampaikan dari para pemain disini berguna tepat.

Scene paling menarik di film ini, dan gua yakin yang menonton film ini akan setuju adalah saat di cafe Yosef dan Maryam berkencan sambil menyuap sedikit demi sedikit makanannya sambil tatap - tatapan. Lalu dilatar belakangi oleh dialog film yang mewakili perasaan dan pembicaraan yang tak usah mereka lontarkan, namun sudah dilontarkan lebih dulu oleh dialog film tersebut. Itu bener - bener keren. Kedua, scene dimana Maryam melakukan pengampunan dosa kepada perantara tuhan, sang Pastor. Terhadap perbuatan yang menyimpang dari ajaran agama bersamanya. Lalu keduanya tak tahan menangis, karna label kesucian mereka yang dikalahkan oleh nafsu. Sayang, sebagian adegan ketika mereka berdua di pantai di cut. Mungkin kalo tidak, adegan itu akan menambah perasaan yang sama kita yang menonton terhadap percintaan mereka berdua.

Kekurangan yang gua rasain di film ini adalah bagaimana babak pertama ketika pengenalan karakter utama dan rutinitasnya yang agak terlalu lama, sehingga gua sudah sedikit merasa kapan babak kedua akan dimulai. Lalu disaat Maryam membaca Novel Bokep dan tidak memberi respon apapun terhadap apa yang telah ia lihat. Kalo gua sih pasti terangsang. Tapi apa mungkin yang dimaksud disitu adalah iman Maryam tidak tergoyah saat melihat Novel itu? Namun dilampiaskan penuh saat adegan di pantai yang di cut itu?bisa jadi.

Dari semua itu, film ini benar - benar sangat indah dari segala aspek yang gua sebutkan diatas tadi. Bagaimana manusia dengan label suci seperti Maryam dan Yosef bisa terkalahkan oleh nafsu mereka sendiri. Yaaa sesuci apapun mereka, mereka tetaplah manusia biasa. Realita di sekitar kita yang sukar untuk diakui.

Satu yang gua ingat, dimana dialog dari suster Monic ke Maryam yang tak kalah menarik. “Jika surga belum pasti untuk saya, untuk apa saya urusi nerakamu.”





Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA ISTIMEWA NYA ALBUM MEMORANDUM DARI PERUNGGU?

Review: Sal Priadi - MARKERS AND SUCH PENS FLASHDISKS

"Bales Pake Karya"